Minggu, 16 November 2014

Filosofi Dari Alam



FILOSOFI DARI POHON KELAPA


Pohon kelapa yang tinggi menjulang dengan daun-daunnya yang panjang melambai ditiup angin biasanya sering dijumpai di wilayah pesisir dan terkenal dengan sebutan nyiur melambai. Buahnya terletak di ujung atas pohon sehingga kita perlu memanjat hingga pada ketinggian tertentu untuk bisa meraih buahnya.
Dalam filosofi Jawa, pohon kelapa ditandai memiliki karakter kuat, pemaaf (tidak pendendam), ramah (tidak sombong), suka mengalah, dan kaya manfaat.
Kuat adalah sifat yang erat melekat pada fisik pohon ini karena postur pohon yang tinggi, gagah, tegak, teguh, besar, keras, dan ditunjang oleh kekuatan akarnya yang mencengkeram tanah. Perlambang yang bisa dicermati dari karakter fisik ini adalah kuatnya keimanan serta keteguhan jati seseorang dalam menjalani hidupnya agar selalu berpegang pada syariat agama yang dianutnya. Dengan demikian ia tidak akan mudah goyah (terpengaruh) tapi justru bisa berpengaruh, sehingga tidak mudah ambruk atau patah semangat.
Pemaaf adalah sikap yang sulit untuk dipraktekkan dalam hidup apabila kita memiliki sifat pendendam karena disakiti oleh orang lain. Pohon kelapa mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi “rasa sakit” yang diakibatkan oleh orang lain dengan justru memberikan kemanfaatan dirinya kepada “yang menyakiti”. Sifat ini dilambangkan melalui tataran (pijakan yang dibuat pemanjat pohon kelapa dengan cara membacok batang pohon sepanjang arah ke atas pohon untuk mendapatkan sang buah). Sang pohon tidak merasa “sakit” atau “membalas” dengan perbuatan serupa. Sebaliknya, “rasa sakit” itu dibalasnya dengan “rasa senang” yang diperoleh oleh orang yang memanjat untuk mendapatkan buahnya. Dengan kata lain, kejelekan tidaklah dibalas dengan kejelekan melainkan justru dengan kebaikan.
Ramah terlihat pada bagaimana gerakan daun pohon kelapa (blarak) yang tertiup angin. Lambaian daun diibaratkan lambaian tangan persahabatan yang membawa rasa damai persahabatan serta keramah-tamahan meskipun posisi pohon adalah pohon yang paling tinggi dibandingkan dengan yang di sekitarnya. Filosofi yang bisa kita pelajari adalah bahwa sebenarnya kita diciptakan oleh Allah dalam kesetaraan, yaitu sama-sama makhluk Allah. Dengan merasa setara orang akan bisa merasakan empati pada orang lain dan bisa memiliki sikap ramah, bukan sombong. Artinya, bila kebetulan seseorang berada pada puncak kedudukan atau memiliki derajat atau martabat yang lebih tinggi di dalam masyarakat, hendaknya ia bisa menjaga sikapnya selalu dengan keramah tamahannya sehingga ia akan jauh dari sikap sombong.

Mengalah adalah sikap yang dilambangkan oleh pohon ini dengan mencermati posisinya ketika bergerombol. Ini akan terlihat bagaimana selalu ada celah di antara tautan dua pohon. Perlambang ini menunjukkan sifat yang benci perselisihan atau mengganggu kepentingan orang lain, yaitu dengan sikap mengalah. Mengalah adalah sifat manusia yang luhur.
Kaya manfaat adalah sifat yang pasti tidak bisa dihindari oleh pohon satu ini. Mulai dari pucuk hingga akar, pohon kelapa memiliki manfaat tiada tara. Daunnya bisa digunakan untuk pembungkus makanan tradisional yang lezat (ketupat, lepet, dll) dan hiasan untuk upacara adat. Buahnya dimanfaatkan untuk masakan, makanan, dan minuman. Bahkan kulit buahnya yang namanya sepet bisa diguakan untuk peralatan rumah tangga dan hasta karya kerajinan. Kulit buahnya yang keras (batok) bisa untuk bahan bakar dapur (arang batok) dan kerajinan. Kemudian, pohonnya bisa untuk membangun rumah dengan sebutan kayu glugu yang terkenal kokohnya, dan masih banyak lagi.

Jumat, 14 November 2014

REVISI

PROGRESIVISME PENDIDIKAN BERKAITAN DENGAN KURIKULUM 2013


A. Ontologi

Pendidikan dalam aliran progresivisme ini muncul adalah sebagai oposisi atas pendidikan model tradisional di Amerika Serikat, sekitar tahun 1800-an. Kebangkitan ini dipicu oleh adanya anggapan dari masyarakat terutama para pendidik bahwa sekolah gagal untuk menjaga langkah dari zaman dengan perubahan hidup yang terjadi dalam masyarakat Amerika itu sendiri. “It grew from the belief that school had failed to keep pace with rapid changes in American life”. (Whitney, 1964: 716).
Perkembangan zaman yang ditopang oleh kemajuan ilmu dan teknologi dalam tatanan masyarakat membutuhkan kemajuan dalam pendidikan itu pula. Untuk menjawab persoalan inilah yang menjadi dasar pemikiran dari pendidikan model filsafat progresevisme ini. Adapun para tokoh pada tahun 1800-an yang memunculkan aliran filsafat pendidikan ini adalah Horace Mann, Francis Parker dan G Stanley Hal, dan pada tahun 1900-an adalah John Dewey dan William H Kilpatrick.
            William James (1842-1910), James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik , barns mempunyai fungsi biologic dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya diatas dasar ilmu perilaku.
            John Dewey (1859-1952), teori Dewey tentang sekolah adalah “progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajarannya sendiri. Maka muncul “Child Centered Curiculum” dan Child “Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini, dibandingkan mempersiapkan masa depan yang belum jelas.
  
 
B. Epistimologi

            Sebagaimana sekolah tradisional biasanya menekankan pelajaran terhadap subjek tertentu, membaca, menulis, sejarah dan lain-lain. Guru mengajar atau mendiktekan pelajaran tersebut kemudian pelajar menuliskannya pada buku catatan masing-masing. Murid kemudian mempelajari inti pokok dari apa yang ada di buku catatan tersebut. Guru menjalankan tugasnya sepanjang pelajatran berlangsung dan murid duduk pada jajara meja tulis dan mereka tidak boleh berbicara keculi dengan ijin dari dari guru (Whitney, 1964:716).
            Dengan demikian dapat digambarkan bahwa pendidikan tradisional itu sangat menekankan otoritas penuh dari guru pengajar, menekankan metode instruksi pada buku teks, pengajaran yang pasif melalui ingatan atas data yang dipelajari, pendidikan terisolasi dari realitas sosial dan hukuman badan untuk menegakkan disiplin (Ornstein dan Lavine, 1985: 203). Dengan kata lain, bahwa sistem pendidikan yang di tekankan adalah disiplin yang kuat dan tegas serta pemberian hukuman diupayakan untuk membangun tata tertib proses belajar mengajar.
            Para pendidik progresivisme melakukan hal sebaliknya dari sekolah tradisional. Para pendidik progresivisme berpikiran bahwa para guru haruslah dibayar lebih banyak agar mereka lebih banyak juga memberikan perhatian kepada murid-murid secara individu dan menghilangkan pandngan atau pendapat bahwa semua murid itu memiliki kemampuan yang sama. Pendidikan progresivise adalah sebuah teori dengan sistem pendidikan yang mementingkan kemerdekaan dan kebebasan anak dari tekanan pengajaran dengan sistem hafalan, pendiktean bahan pelajaran dan otorisasi terhadap buku teks.
            Para pendidik progresivisme meyakini bahwa para murid belajar lebih baik apabila mereka dengan sungguh-sungguh sangat perhatian atas apa yang dipelajari , yaitu materi yang materi pelajaran yang mereka sukai, dan sebaliknya akan terjadi bahwa mereka tidak akan belajar dengan baik jika mereka ditekan untuk menghafal dan dan mengingat berbagai macam fakta-fakta yang dianggap percuma.
            “Child centered progressives saw the school as a place where children would be free to experiment, to play and to express themselves” (Ornstein dan Lavine, 1985” 204). Berdasarkan hal tersebut, maka dalam sistem pendidikan progresivisme ini sekolah seharusnya tidak hanya memiliki satu ruang kelas, melainkan juga harus memiliki ruang kerja, laboratorium ilmu, studio, ruang seni, gedung olahraga dan lainnya. Para pengajar progresivisme yakin bahwa dengan prosedural pengadaan fasilitas ini akan secara otomatis membangun fisik, sosil, emosi alamiah mereka sebagaimana adanya (Whitney 1964: 717). Para anak didik juga memiliki wadah untuk mngekspresikan apa yang ada didalam pikiran mereka.
            Pendidikan model progresivisme ini sangat menekankan bahwa siswa harus diajar menjadi seorang yang berdiri sendiri (Independen), menjadi seorang pemikir yang percaya diri. Dalam hal ini siswa diarahkan untuk belajar  dan mempelajari persoalan-persoalan yang siswa anggap paling menarik, yaitu dengan memilih sendiri persoalan yang hendak dipelajari, kemudian menetapkan definisi bagi dirinya sendiri atas persoalan yang diteliti. Selanjutnya siswa akan mengekspresikan apa yang ia rasakan dan ia yakini. Peran guru disini adalah membantu murid untuk belajar dan mendisiplinkan siswa agar tetap konsekuen atas apa yang telah ia pilih sebagai persoalan yang ia minati.


C. Aksiologi

            Pendidikan di Indonesia sudah mengalami progress yang sangat baik yakni di berlakukannya kurikulum 2013. Kurikulum 2013 yang mulai digunakan dalam pembelajaran di satuan pendidikan ini lebih baik dari kurikulum yang digunakan sebelumnya karena di Kurikulum 2013 ini menggunakan pembelajaran tematik yakni yang pembelajaran yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi yang terdapat didalam beberapa mata pelajaran dan diberikan dalam satu kali tatap muka. Dalam kurkulum 2013 ini pula mennggunakan pembelajaran kooperatif yakni dalam pembelajaran dikelas dengan cara kerja sama antara sesama murid ataupun antara murid dengan guru.
            Awalnya siswa yang hanya menuruti perintah dari guru, menulis apa yang diperintahkan oleh guru dan mendengarkan penjelasan dari guru, sekarang dalam kurikulum 2013 ini siswa dianjurkan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar dikelas siswa harus mampu menulis, membaca, mendengarkan, memahami dan mengkomunikasikan apa yang mereka pelajari didalam kelas, Dan peran guru hanya sebagai fasilitator atau sebagai pengarah jika siswa keliru atau kesulitan dalam belajar.
            Kurikulum 2013 terdiri dari tiga aspek yakni aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (sikap) dan aspek psikomotor (keterampilan). Dengan terteranya ketiga aspek diatas diharapkan siswa mampu mempunyai pengetahuan yang baik, sikap yang baik, dan ktermpilan yang sangat bagus, sebelumnya siswa diajurkan hanya mempunyai pengetahuan dan kecerdsan yang baik tanpa membandingkan sikap dan keterampiannya
           


Kamis, 13 November 2014

Aliran Progresivisme1


Aliran Progresivisme dalam Pendidikan

1. Ontologi
Progresivisme menurut bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat. Dalam konteks filsafat pendidikan, progresivisme adalah suatu aliran yang menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berfikir peserta didik, sehingga peserta didik dapat berfikir secara sistematis dengan cara memberikan analisis, pertimbangan dan perbuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang memungkinkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi.
Aliran Progresivisme ini adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang dengan pesat pada permulaan abad ke 20 dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan yang didorong oleh terutama aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme sehingga penyebutan nama progresivisme sering disebut salah satu dari nama-nama aliran tadi. Progressivisme dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian "The Liberal Road to Cultural" yakni liberal dimaksudkan sebagai fleksibel (lentur dan tidak kaku), toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahui dan menyelidiki demi pengembangan pengalaman.
Tokoh - tokoh aliran progresivisme ini, antara lain, adalah
a.       William James (1842-1910), James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik , barns mempunyai fungsi biologic dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya diatas dasar ilmu perilaku. 
b.      John Dewey (1859-1952), teori Dewey tentang sekolah adalah “progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajarannya sendiri. Maka muncul “Child Centered Curiculum” dan Child “Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini, dibandingkan mempersiapkan masa depan yang belum jelas.
c.       Hans Vaihinger (1852-1933), menurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan objeknya tidk mungkin dibuktikan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir adalah mempengaruhi kejadian-kejadian dunia.

Munculmya aliran progresivisme merupakan salah satu jawaban atas berbagai persoalan yang berkenaan dengan problem pendidikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai manusia sejatinya.


2. Epistimologi
Filsafat progresivisme telah memberikan kontribusi yang besar di dunia pendidikan, dimana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik. Anak didik diberikan kebebasan secara fisik maupun cara berfikir, guna mengembangkan bakat, kreatifitas dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Berdasarkan pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
Dalam aliran progresivisme ini proses belajar mengajar di kelas ditandai dengan beberapa hal yaitu :
a.       Guru merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa
b.      Selain membaca buku, siswa juga diharuskan berinteraksi dengan alam misalnya melalui kerja lapangan atau lintas alam
c.       Guru membangkitkan minat siswa melalui melalui permainan yang menantang siswa untuk berpikir
d.      Siswa didorong untuk berinteraksi sesamanya untuk membangun pemahaman sosial
e.       Kurikulum menekankan studi alarm dan siswa dipajangkan (exposed) terhadap perkembangan barn dalam saintifik dan sosial
f.       Pendidikan yang terus menerus memperkaya siswa untuk tumbuh, bukan sekedar menyiapkan siswa untuk kehidupan dewasa. Para pendididik aliran ini sangat menentang praktik sekolah tradisional, khususnya dalam lima hal :
-          Guru yang otoriter
-          Terlampau mengandalkan metode berbasis buku teks
-          Pembelajaran faktif dengan mengingat fakta
-          Filsafat empat tembok yakni terisolasinya pendidikan dari kehidupan nyata
-          Penggunaan rasa takut atau hukuman badan sebagai alat menanamkan disiplin pada siswa


3. Aksiologi
            Kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tata logic dan sistematisasi berfikir ilmiah. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah melatih kemampuan-kemampuan subjek didiknya dalam memecahkan masalah kehidupan yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan masyarakat.
            Esensi kemanusiaan adalah semangat untuk mengadakan perubahan-perubahan menuju kemajuan-kemajuan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan berfungsi sebagai wahana penumbuhkembangan daya kreativitas subjek didiknya agar memiliki kemampuan dalam mengatasi berbagai problem diri dan masyarakatnya, sehingga memiliki semangat mengadakan pembaharuan-pembaharuan yang berguna bagi pengembangan diri dan masyarakatnya.
            Pendidikan harus lebih aktif berkaitan dengan minat anak. Progresivisme menekankan perlunya memusatkan pendidikan pada anak sebagaimana adanya. Anak sebagai suatu keutuhan pribadi mempunyai dunianya sendiri yang mesti dihormati dan dijadikan sebagai pangkal tolah untuk kegiatan pendidikan.
            Peranan guru lebih sebagai pendamping dan penasihat daripada sebagai penentu minat dan kebutuhan. Anak didiklahyang menjadi pokok tentang apa yang mestinya mereka pelajari. Anak-anak mesti dibimbing untuk merencanakan kegiatan pembelajaran mereka. Guru menyediakan fasilitas dengan memberikan pengetahuan dan pengalamannya yang lebih luas untuk mereka gunakan, dan apabila anak didik menagalami kemacetan, guru perlu menolong.
            Sekolah mesti mendorong adanya kerjasama antara murid-murid dan bukan persaingan. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial dan mendapatkan kepuasannya terbesar dari hubungan mereka satu sama lain.


Sumber :